Kamis, 23 Februari 2012
Pemasukan Zakat
Dari : 1 Februari 2012 s.d. 04 November 2011 10:33:14 WIB

Zakat Profesi: Rp.24.779.139,-
Zakat Maal: Rp.2.835.000,-
Infak/Shodaqoh: Rp.4.418.500,-
Total: Rp.32.032.639,-
Terbilang : [ tiga puluh dua juta tiga puluh dua ribu enam ratus tiga puluh sembilan Rupiah ]
Rekening Zakat & Infak
Rekening Zakat
Bank BCA - 0953047745
Bank BNI - 0003902085
Bank MEGA Syariah - 1000015708
Bank Syariah Mandiri - 160042156
BNI Syariah - 0092992213
a.n. BAZ Kota Bogor
Rekening Infaq
Bank BCA - 0953047753
Bank BNI - 0003902096
Bank MEGA Syariah - 1000015690
Bank Syariah Mandiri - 160042160
BNI Syariah - 0092992950
a.n. BAZ Kota Bogor
Rekening Kemanusiaan
Bank BCA - 0953047761
a.n. BAZ Kota Bogor
Laporan Keuangan
Report belum tersedia
Artikel
, 11 November 2010 13:58:17 WIB

Ketika Ibnu Taimiyah menerangkan tentang maiyatullah (kebersamaan Allah), beliau menganalogikan sepeti bulan atau matahari yang hanya satu tetapi dapat bersama dengan seluruh manusia baik yang bepergian maupun yang tinggal di rumah. Matahari bersama kita Baik yang di Bogor, Jakarta, Surabaya maupun di seluruh pelosok Indonesia walau mataharinya satu. Satu tetapi dapat bersama dengan seluruh makhluk di dunia ini. Sama halnya Allah itu satu tetapi dapat bersama dengan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini.

Ada sebuat cerita yang dapat menghantarkan kita untuk selalu menghadirkan Allah dalam semua aktivitas kita. Cerita ini tentunya hanya analogi atau kias saja, namun mudah-mudahan dapat menghantarkan kita lebih dekat dengan Allah.

Suatu hari di lautan di samudra yang luas, hiduplah seekor paus yang sudah hidup puluhan tahun, dia adalah seekor ikan yang paling tua di antara ikan-ikan yang lainnya. Datanglah sekelompok ikan teri menghampiri ikan paus seraya mereka bertanya, “Wahai paus, kau adalah ikan tertua diantara kita, kau telah melanglang buana di samudra ini sebelum kita dilahirkan, coba kamu bawa kami untuk bertemu dengan laut, kami sering mendengar tentang laut tetapi kami tidak tahu dimana itu laut?.” Kemudian paus pun berkata, “Wahai sekalian ikan teri, urungkan niat kalian untuk bertemu dengan laut, kalian cukup percaya saja dengan laut, bahwa laut itu ada”. Ikan teri itu marah karena jawaban ikan paus itu tidak memuaskan mereka, bahkan mereka siap mengeroyok paus dan mereka memaksa paus untuk menghantarkan mereka ke laut.  Akhirnya paus pun bercerita tentang laut. “Wahai ikan teri ketahuilah bahwa kalian akan menemui laut kemanapun kalian pergi dan dimanapun kalian berada, kita berasal dari laut dan akan kembali ke laut, laut selalu bersama kita baik kita sendiri maupun kita bersama-sama, laut lebih dekat dengan kita dari urat nadi kita, laut selalu mengawasi dan melihat kita dimanapun kita berada, laut itu besar dan meliputi semua makhluk di dalam samudra ini.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil pelajaran, bahwa kita manusia yang hidup di dunia ini merasa tidak diawasi oleh Allah SWT, kita hidup bersama Allah tetapi tidak merasa bersama Allah, sama seperti halnya ikan di lautan yang hidup dengan laut tetapi tidak merasa laut hadir bersamanya.  Dalam Al-quran dijelaskan bahwa (“Dia (Allah) selalu bersamamu diamanapun kamu berada”) seperti ikan di laut, kemanapun dia pergi laut bersama dia. Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan (“Kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah”),  (“Allah Maha Besar”),   (Sesunggguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita akan kembali”), (“Dan Allah meliputi segala sesuatu”), (“Dan Allah Maha melihat lagi Maha mendengar”), (Dan Dia lebih dekat dari diri kita dari urat nadi kita”). Tentunya kita tidak boleh menyamakan antara Allah dengan lautan karena Allah tidak semisal dengan apapun dan tidak ada yang dapat menandingi dan menyerupai Allah, seperti yang difirmankan (“Tidak ada yang semisal dengannya”, “Tidak ada yang setara dengan-Nya).

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang ihsan, beliau menjawab “Kamu menyembah Allah seakan kamu meliahat Allah, dan jika kamu tidak melihat Allah sesungguhnya Allah melihatmu”.  Kita hanya dapat menghadirkan Allah dengan pendekatan-pendekatan pikiran kita karena kita tidak akan pernah dapat melihat Allah dengan mata telanjang. Allah itu diluar jangkauan kita, tetapi setidaknya dari kisah di atas kita dapat mengambil analogi, bahwa ikan di laut tidak akan pernah dapat lepas dari pandangan dan pantauan laut, sama halnya dengan kita tidak akan pernah lari dan lepas dari pantauan dan gengaman Allah SWT, kemanapun kita bersembunyi Allah bersama kita. Sekali lagi Allah Maha Agung dan Maha Besar dan Allah tidak ada bandingannya serta tidak ada yang dapat dimisalkan dengan Allah. Dengan analogi cerita di atas sejatinya kita hadirkan Allah dalam seluruh aktivitas kita. Allah melihat kita, Allah begitu dekat dengan kita, Allah mendengar kita bahkan Allah mengetahui apa yang terdedetik dalam hati kita.



Artikel Sebelumnya :
Artikel tidak tersedia
Mitra BAZ Kota Bogor