| Zakat Profesi | : Rp. | 24.779.139,- |
| Zakat Maal | : Rp. | 2.835.000,- |
| Infak/Shodaqoh | : Rp. | 4.418.500,- |
| Total | : Rp. | 32.032.639,- |
| Terbilang : [ tiga puluh dua juta tiga puluh dua ribu enam ratus tiga puluh sembilan Rupiah ] | ||
Deni Lubis, MA
Ketika Ibnu Taimiyah menerangkan tentang maiyatullah (kebersamaan Allah), beliau menganalogikan sepeti bulan atau matahari yang hanya satu tetapi dapat bersama dengan
Ir. H. Endang Oman
Dari sela – sela jendela nako ruang klinik gratis untuk dhuafa, wajah letih itu terlihat pucat. Perutnya yang buncit menyangga kehidupan si mungil, tampak menyulitkannya bergerak. Kalaulah kursi yang didudukinya bisa bicara, tentu dia akan mengeluhkan betapa berat tugasnya hari ini..Sambil terdiam, wanita perkasa itu menyelonjorkan kakinya yang terlihat membengkak. Pre-eklampsia…
……
"Mas, jam 2 mau nganter alat ya? Nebeng dong…aku mau ketemu Pa Ino…" pintaku pada Mas Bambang, supir ambulans klinik.
…..
"wa'alaikum salam…iya ustad..lagi nganter alat… sudah kerasa ya…oh, ada paraji ya …saya telp dokter Titi dulu ya..."
"Halo..dok, Bambang nih..si ibu hamil yang tadi periksa ke klinik, yang tensinya tinggi, kakinya bengkak-bengkak, kan pulang dulu ke rumahnya, suaminya tadi nelp,katanya udah kerasa, gimana?...oh gitu..kalau tensinya dibawah 160 boleh melahirkan di rumah, kalau diatas 160 harus dirumah sakit…ga ada dok…baru ada paraji aja…oh..harus ada bidan ya..ok dok,thanks ya.."
"assalamu'alaikum ustad, gimana kondisi ibu?...ketubannya dah pecah!... ada bidan deket situ ga pak?...oh lagi dipanggil… saya perlu kesana sekarang?..."
"Ada apa mas?"
"Itu, si ibu yang tadi periksa katanya udah kerasa..tensinya kan tadi pagi tinggi, 160, dan sudah kita rujuk ke rumahsakit, tapi katanya mau pulang dulu buat siap-siap…gimana ya bu Tia?”
"Ya udah kita kesana aja sekarang, takutnya ada apa-apa, apalagi ketubannya udah pecah…"
…..
"assalamu'alaikum, ustad, kita sedang di perjalanan kesana, siapin aja baju-baju ibu, jadi nanti tinggal berangkat…ga apa-apa ustad, jangan sungkan…"
"Halo..Hen, si ibu yang tadi pagi periksa, udah kerasa, bisa ikut ke sana ga?Heni kan bidan...ga punya alat?...ooh…ke rumah sakit aja ya…" 1
….
Rumah sederhana itu, persis di belakang masjid yang juga sederhana. Dari ruang tamu yang kosong melompong itu, bergegas seorang laki-laki tua bersarung dan berbaju koko biru lusuh menghampiri kami.
"Di dalam bu, ibu bisa lihat…"
….
Wanita perkasa itu tengah terbaring dilantai dengan hanya beralaskan karpet merah tipis yang sudah basah kuyup. Seorang ibu tua menemani dan mengelus-elus perut buncitnya yang telanjang dan nampaknya sudah di olesi racikan dedaunan. Setiap kali perut buncit itu menegang, erangan lemah terdengar dari wajah yang sepuluh kali lebih pucat dari wajah yang kutemui tadi pagi.
"Ibu, kita ke rumah sakit ya?"
Anggukan lemah dari kepalanya yang penat…
"Ke heula neng..ieu mah teu kudu ka rumah sakit…sakedap deui ge lahir"
"Ema, ieu kondisina tos kritis, abdi hawatos, saena mah ka rumah sakit wae.."
"ih si eneng mah…bisi borojol di jalan keh kumaha.."
"Ka rumah sakit mung 15 menit ma, kabujeng moal?'
"Nya duka atuh eta mah…insyaAlloh moal kedah ka rumah sakit sagala, pan ema mah putra geus sabelas, teu kunanaon teu sing…" 2
….
"Bapak gimana? Ini ibu harus segera ke rumah sakit…"
"Sebentar ya bu, saya mau sholat dulu"
….
"Halo dok…ini Tia, kata parajinya kalo ke rumah sakit takut brojol di jalan…ooh,usahakan bidan terdekat ya…diawasi…kalo kejang langsung ke rumah sakit…ya..ya…"
"Halo…Hen, ini Bambang…bisa ke sini ga? Kita ga ngerti apa-apa nih…naik ojek aja, nanti dibayar disini..ga papa ga bawa alat juga"
….
"Bu, anaknya udah jemput bidan pake motor, deket, mungkin bentar lagi"
15 menit menanti…
….
"Bu, bidannya ga mau ke sini…"
"Kenapa?"
"Ga tau, katanya beda desa…" 3
Marah dan sedih begitu membuncahdi kepalaku…
"Bu, biar Bambang aja nyusulin bidannya lagi, paling ga pinjam tensian sama alat,biar Heni kesini dah ada alat…"
…Baca juga :





















